PAKAIAN ADAT INDONESIA (SUMATERA DAN JAWA)
Kelompok 8 Character Building: Kewarganegaraan
Indonesia memiliki keanekaragaman yang tak terbatas jumlahnya, sehingga diperlukan persatuan dari semua rakyat Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman, karena perbedaan rentan terpisah. Salah satu contoh keanekaragaman yang dimiliki oleh Indonesia adalah pakaian adat. Pakaian adat merupakan salah satu sarana dalam menyampaikan diri kita sebagai bangsa yang beranekaragam. Tentu pakaian adat setiap daerah memiliki keunikannya tersendiri, dan masing-masing atribut melambangkan arti yang dalam dan sangat bersejarah.
Mungkin dari kita beberapa masih kurang mendalami pakaian adat itu sendiri karena generasi muda sekarang lebih memilih pakaian modern seperti ripped jeans, sneakers, snapback, dll. Maka dari itu kami menyimpulkan contoh-contoh pakaian adat yang terdapat di Jawa dan di Sumatera.
Pakaian Adat Jawa
1.
Kebaya
Kebaya
adalah jenis blus atau atasan tradisional yang dikenakan kaum perempuan.
Biasanya dibuat dari kain tipis yang gabungan dengan kain batik, sarung, atau
songket. Namanya sendiri berasal dari bahasa Arab, abaya yang artinya
adalah pakaian.
Ada
sumber yang menyebutkan bahwa kebaya ini datangnya dari Tiongkok dan mengalami
akulturasi budaya sesamainya di Pulau Jawa. Pada masa itu, kebaya adalah salah
satu simbol perempuan bangsawan untuk membedakan mereka dengan rakyat jelata.
Dalam
perkembangannya, model kebaya mengikuti pekembangan dunia fashion. Dari
modelnya yang klasik, kebaya sering dikembangkan mengikuti arah mode yang
sedang tren.
· Atribut:
Traditionalnya
baju kebaya tidak memiliki atribut yang mesti.
2.
Jawi
Jangkep

Jawi
Jangkep secara resmi dikenal sebagai pakaian adat daerah Jawa Tengah. Jawi
Jangkep ini merupakan pakaian yang dikhususkan untuk kaum pria. Pakaian ini
berasal dari adat Keraton Kasunanan Surakarta.
Jawi
Jangkep ada 2 jenis, yaitu Jawi Jangkep dan Jawi Jangkep padintenan
(keseharian). Jawi Jangkep mengharuskan penggunaan atasan hitam yang hanya
boleh dipakai pada acara formal. Sedangkan Jawi Jangkep padintenan mengenakan
atasan selain warna hitam yang boleh digunakan pada acara non-formal.
·
Atribut:
o Penutup kepala berupa blankon atau destar.
o Pakaian atasan dengan bagin belakang jauh lebih pendek
untuk tempat keris.
o Setagen.
o Epek, timang, dan lerep sebagai sejenis ikat pinggang.
o Kain bawahan.
o Wangkingan atau keris.
o Canilan atau selop sebagai alas kaki.
3.
Beskap

Beskap
adalah salah satu jenis pakaian atasan pada Jawa Jangkep, namun seiring
perkembangan jaman Beskap sering dikenakan terpisah. Untuk pemakaiannya, Baskep
sudah dipakai oleh masyarakat Jawa sejak zaman Mataram, akhir abad ke-18.
Beskap
memiliki bentuk berupa kemeja lipat dengan kerah yang bukan lipat, biasanya
beskap menggunakan kain yang berwarna polos. Kancing pada beskap tertak pada
sisi kanan dan kiri serta pola kancingnya menyamping. Seperti Jawi Jangkep, bagian
belakang Beskap terbuka untuk tempat keris.
Untuk
jenisnya, Beskap memiliki 4 jenis, yaitu:
·
Beskap
gaya Solo, yaitu jenis
Beskap yang terinspirasi dari pakem budaya Keraton Kasunanan.
·
Beskap
gaya Yogya, yaitu jenis
Beskap yang merujuk pada pakem Keraton Kasultanan.
·
Beskap
Landung, yaitu jenis
Beskap dengan bagian depan yang panjang.
· Beskap gaya Kulon
4.
Surjan

Surjan
adalah kemeja atasan yang digunakan oleh kaum pria dengan lenganan panjang dan
kerah tegak. Surjan tebuat dari kain bermotif lurik atau bunga. Nama sujan
merupakan singkatan dari gabungan kata suraksa-janma yang artinya
menjadi manusia. Ada pula yang mengatakan surjan berasal dari kata sira dan jan
yag artinya pelita.
Sejarah
mengatakan bahwa surjan sudah ada sejak jaman Mataram Islam. Pakaian ini
diciptakan pertam kali oleh Sunan Kalijaga. Pakaian ini sering juga disebut
sebagai pakaian taqwa karena memiliki makna religius.
·
Atribut:
o 6 buah kacing pada kerah: Melambangkan rukun iman.
o 2 buah kancing pada dada kiri dan kanan: Melambangkan
dua kalimat Syahadat.
o 3 buah kancing yang tak terlihat di bagian dada dekat
perut yang melambangkan nafsu manusia yang harus dikendalikan.
5.
Kanigaran

Kanigaran
adalah dandanan khusus pada pengantin dari keluarga kerajaan di Kesulatanan
Ngayogyakarta yang disebut paes ageng kanigaran. Riasan ini sudah
dipersilahkan untuk dipakai oleh masyarakat umum pada masa pemerintahan Sultan
Hamengkubuwono IX. Kanigaran berisikan dengan banyak makna filosofis dan banyak
diminati calon pengantin, khususnya bagi yang berdarah Jawa.
Pakaian
kanigaran terbuat dari bahan beludru warna hitam yang dilengkapi dengan kain dodot
atau kampuh sebagai bawahan. Riasan dan aksesoris pada Kanigaran
memiliki aturan pemakaian yang ketat dan hanya perias yang terlatih yang mampu
melakukannya.
·
Atribut:
o Cunduk Mentul
Cunduk mentul adalah atribut yang letaknya di kepala
yang menjulang tinggi ke atas. Biasanya terdiri dari 5 sampai 7 bulatan. Namun
sebenarnya cunduk mentul dapat berjumlah 1, 3, 5, 7 atau 9. Cunduk mentul yang
jumlahnya satu sebagai simbol atas keesaan Tuhan. Berjumlah tiga sebagai simbol
trimurti. Jika berjumlah 5, adalah simbol rukun Islam. Jika berjumlah 7 sebagai
simbol pertolongan karena tujuh dalam bahasa jawa adalah “pitu” yang dipercaya
sebagai simbol “pitulungan”. Terbanyak berjumlah 9, sebagai simbol walisongo.
Selain itu, cunduk mentul seharusnya dipasang menghadap belakang sebagai simbol
bahwa perempuan harus cantik saat terlihat dari depan maupun belakang.
o Gunungan
Gunungan juga diletakkan di kepala dan berbentuk
seperti gunung. gunung dipercaya oleh masyarakat terdahulu sebagai tempat yang
sakral dan tempat bernaungnya para dewa. Simbol ini diletakkan di kepala
perempuan menandakan bahwa perempuan harus juga dihormati oleh suaminya.
o Centhung
Centhung berbentuk seperti gerbang sebanyak dua yang
terpasang di sisi kanan dan kiri. Ini adalah simbol tentang gerbang kehidupan.
Artinya, perempuan harus siap untuk memasuki gerbang baru dalam kehidupannya.
o Paes Prada
Ini adalah riasan yang dibuat di kening pengantin
wanita. Biasanya berwarna hitam dan berbentuk garis lengkung. Kalau kita lihat,
besar lengkungan di kening berbeda-beda. Terdapat satu lengkungan besar yang
dibuat di tengah, dan diapit oleh lengkungan-lengkungan kecil. Lengkungan yang
besar adalah simbol kebesaran Tuhan. Sedangkan lengkungan yang kecil disebut
pengapit, sebagai simbol bahwa seorang istri harus siap menjadi penyeimbang
dalam rumah tangga.
o Citak
Citak adalah yang dilukis di tengah kening seperti
riasan India. Citak berada tepat di tengah-tengah. Sebagai simbol bahwa seorang
wanita harus fokus, berpandangan lurus ke depan, dan setia.
o Alis Menjangan
Alis menjangan adalah bentuk alis yang bercabang
seperti tanduk rusa. Bentuk ini memang terinspirasi dari hewan rusa. Karena,
rusa adalah hewan yang cerdik, cerdas dan anggun. Artinya perempuan harus
memiliki ketiga karakter ini, cerdik, cerdas dan anggun.
o Sumping
Adalah hiasan yang diletakkan di telinga. Saat ini
sumping yang digunakan oleh pengantin terbuat dari lempengan logam. Namun pada
awalnya, sumping yang digunakan oleh trah kerajaan terbuat dari daun papaya, karena
daun pepaya rasanya pahit, sehingga menandakan bahwa menjadi seorang istri
harus siap untuk merasakan berbagai kepahitan.
o Kalung Sungsun
Kalung ini bersusun tiga. Simbol dari tiga fase
kehidupan yang harus dilalui oleh seorang wanita. Fase ini terdiri dari
kelahiran, pernikahan dan kematian. Artinya setiap wanita harus siap untuk
menghadapi fase-fase tersebut.
o Kelat bahu
Kelat bahu adalah hiasan yang disematkan di bahu
pengantin wanita. Kelat ini berbentuk naga. Naga adalah hewan yang dipercaya
memiliki kekuatan besar. Artinya, menjadi perempuan harus kuat. Kuat menghadapi
beragam masalah yang hadir di dalam pernikahan.
o Gelang paes ageng
Gelang paes ageng adalah gelang yang dipakai pengantin
wanita berbentuk bulat tanpa putus. Ini adalah simbol dari cinta abadi antara
dia dan suaminya.
6.
Basahan

Basahan
adalah riasan / dandanan yang digunakan oleh pengantin. Berasal dari warisan kebudayaan
kerajaan Mataram. Basahan pada jaman sekarang masih banya menjadi dandanan
pilihan untuk dikenakan pada upacara penikahan.
Berbedaan
diantara dandanan basahan dan kanigaran berada pada gaya berpakaiannya. Pada
Kanigaran digunakan pakaian luaran berbahan beludru di luar kemben, sedangkan
pada Basahan pakaian luaran tersebut tidak dikenakan. Riasan dan aksesoris yang
digunakan hampir sama dengan dandanan paes ageng kanigaran.

Bedahan
adalah pakaian kaum menengah di Jawa Barat. Profesi dari kaum menengah itu
sendiri biasanya adalah pedangang atau saudagar. Pemakaiannya biasa disertai
manik-manik.
Pakaian
ini memiliki bawahan kain kebat batik bergai macam corak. Alas kakinya berupa
sandal tarumpah, ikat pinggang yang bernama beubeur, ikat kepala,
dan rantai emas yang di gantungkan di saku bajunya.
Source:
Sumatera
Utara
a.Pakaian
Adat Batak Sumatera Utara
![]() |
Kehidupan masyarakat Sumatera Utara, khususnya di lingkungan
Batak, tidak terlepas dari kerajinan tenun kain sebagai bahan pakaian mereka
yang di sebut kain ulos. Ulos digunakan
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Apabila dipakai
oleh kaum laki-laki sebagai baju mereka, bagian atasnya disebut hande-hande, sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang, atau detar. Ada beberapa jenis ulos batak yang hanya dipakai
pada acara tertentu, misalnya ulos jugjaragidup, sadum, ragihotang, dan runjat. Kain ulos yang dipakai orang Batak
pada upacara-upacara adat, umumnya diselempangkan kepinggangnya atau juga
sebagai selendang.
Pakaian
adat yang dipakai suku Batak Simalungun, antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif
gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Selain bulang, ada juga ulos suri-suri sebagai penutup kepala.
Sementara
itu, suku Batak Toba biasanya menggaunakan baju dan celana yang dilengkapi
dengan ulos maringin di kepala dan setengah badan.
Kadang-kadang juga menggunakan ulos ragihotang yang
diselempangkan dan dilengkapi dengan sarung.
![]() |

Dalam
upacara adat perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin.
Pengantin pria memakai baju adat berupa jas tutup warna putih, sedangkan bagian
bawah memakai ulos ragi pane. Pakaian perempuan
Batak
toba bagian bawahnya disebut haen yang
dipakai hingga batas dada. Penutup punggung disebut hoba-hoba. Bila dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Penutup bagian kepala disebut saong. Sementara itu pakaian adat perempuan Batak karo
terdiri atas baju tutup lengan panjang, sedangkan bagian bawahnya mengenakan
sarung sungkit yang dililit kain ulos.
Menurut
adat dalam pesta perkawinan, wanita suku Mandailing/ Angkola menggunakan
atribut pakaian adat yang terdiri atas bulang yang
diikatkan ke kening. Bulang tersebut terbuat dari emas, tetapi sekarang sudah
banyak yang terbuat dari logam dengan sepuhan emas. Bulang terdiri atas tiga
macam, yaitu bertingkat tiga (bulang harbo/ bulang kerbau),
bertingkat dua (bulang hambeng/ bulang kambing),
dan tidak bertingkat. Bulang
mengandung
makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari
struktur masyarakat.
Bagian
atas badan wanita tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu terbuat dari
kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Baju
pengantin ini disebut juga baju godang atau
baju kebesaran. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang
tidak ditentukan.
Dua
lembar selendang disilangkan pada dada sampai punggung. Untuk selendang
pengantin, kadang menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Selendang
pengantin tersebut merupakan lambang dalihana tolu,
tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Sisi
kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak
gadis), sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat
satu marga), dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat
penerima gadis).
Pengantin
pria menggunakan pakaian yang terdiri atas ampu atau
penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/ Angkola yang terbuat dari kain
dan bahan lain. Ampu merupakan mahkota yang biasanya digunakan raja-raja di
Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Warna hitam ampu mengandung fungsi
magis, sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Bagian kanan ampu
yang salah satu ujungnya menghadap ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung
arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan
dikubur. Pada masa sekarang pengantin pria menggunakan jas biasa berwarna hitam
yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi.
![]() |
|||
|
|||
b.Pakaian
Adat Nias Sumatera Utara

Masyarakat
Nias di pantai selatan Sumatera memiliki variasi pakaian tradisional yang
menambah keanekaragaman pakaian adat suku-suku bangsa di Provinsi Sumatera
Utara.
Dalam
Upacara adat pakaian adat yang dikenakan kaum laki-laki Nias terdiri atas baru atau baju yang terbuat dari bahan kulit kayu.
Baju berbentu rompi tanpa kancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dengan
ornamen berwarna merah, kuning, dan hitam. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni'ola'a harimao, yaitu baju dengan motif kulit
harimau. Selain model rompi, ada juga baju berlengan tanpa kancing yang terbuat
dari kulit kayu, yaitu baru lema'a.
Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan atribut pelengkap pakaian adat berupa kalabubu sebagai penghias leher. Kalabubu adalah kalung untuk pria yang terbuat dari kuningan dan dilapisi dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Jenis kalung lainnya adalah nifatali dan nifato-fato. Nifatali terbuat dari lilitan emas atau perak. Sedangkan nifato-fato terbuat dari lempengan kuningan, perak atau emas. Sementara itu, salah satu penutup kepala untuk perang disebut tetenaulu yang terbuat dari rajutan rotan yang dilengkapi daun pelem sebagai penutup bagian belakang. Ada juga penutup kepala yang disebut takula yang terbuat dari daun pelem, rotan dan pelepah kelapa.
Pakaian
adat asli wanita suku Nias hanya terdiri dari lembaran kain (blacu hitam atau
kulit kayu), tanpa busana atas(baju penutup dada). Pakaian ini dilengkapi
dengan aja kola dan saro dalinga. Aja kola adalah gelang yang terbuat dari bahan
gulungan kuningan dengan berat mencapai satu kilogram. Sedangkan saro delinga yaitu anting logam besar yang hanya
dipakai pada telinga kanan saja.
![]() |
Untuk
menghadiri upacara adat, biasanya dikenakan baju adat berbentuk jaket atau
jubah berbahan katun, yang berwarna merah, berlengan kuning dihias motif sisir
berwarna hijau atau kehitaman. Pakain ini dilengkapi dengan balahogo sokondra,yaitu salah satu jenis penutup baju
bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari batu-batuan. Bagian bawah
pakaian wanita Nias disebut mukha. Untuk
melengkapi pakaian ini terdapat pula sebuah selendang yang diberi nama lembe, yaitu selendang katun bermotif bunga berwarna
kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna kehitaman.
Sebagai
kelengkapan pakaian upacara, wanita Nias memakai beberapa jenis
aksesoris. Gela gela atau tali hu adalah jenis anting yang digunakan
masyarakat kebanyakan. Anting tersebut terbuat dari bahan perunggu dengan
hiasan batu-batuan atau kerang. Fondruru ana'a adalah
jenis anting yang terbuat dari emas yang banyak digunakan oleh kaum bangsawan.
Demikian juga ra ni woli woli, salah satu jenis
mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornamen barisan
koin emas memanjang horizontal dan di tengah bagian belakang terdapat kepala
mahkota berbentuk bunga dan daun-daunan.
Secara
keseluruhan pakaian adat pengantin Nias tampak sederhana. Hal tersebut juga
menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. sebelum mengenal pengaruh
dari luar, dahulu pakaian tradisional Nias terbuat dari bahan kulit kayu.
Namun, kini pakaian pengantin telah menggunakan bahan beludru. Warna hitam,
merah, kuning, emas mendominasi pakaian adat pengantin Nias. Dalam pakaian adat
pengantin ini tampak adanya pengaruh unsur-unsur Melayu.
Rambut
wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. Kemudian, dihiasi
dengan mahkota atau rai. Baju berbentuk jubah hitam yang berhiaskan motif
binatang dari beludru merah tersebut dipadukan dengan kabo, kain hitam dengan ornamen geometris segitiga
berbaris di sisi pinggirnya, yang disarungkan ke kiri. Untuk kelengkapannya
mempelai wanita mengenakan seledang (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Perhiasan yang
digunakan adalah sialu fondreun (anting-anting), alga kala bubu (kalung), dan gala (gelang).
Pengantin
Pria mengenakan celana hitam selutut, baju kuning berpotongan serong dari beludru
yang diberi ornamen berwarna merah, kuning di bagian depan, separuh leher dan
lengan. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan
buaya. Selembar ondora atau selendang warna
kuning dililitkan di pinggang.
Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja
ke Kabupaten Nias
c.Pakaian Adat Melayu Sumatera Utara


Pakaian beradat Melayu biasanya dikenakan
pada upacara pernikahan. Pakaian adat masyarakat Melayu Sumatera Utara pada upacara
ini terdiri dari; Pengantin wanita Melayu memakai kebaya panjang atau baju
kurung sebagai pakaian adat, Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket
buatan Batubara atau tenunan Malaysia dan bagian kepala dibalut dengan
selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi rambut dalam gaya sanggul
khusus yaitu sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Pada sanggul ini ditempatkan
hiasan-hiasan keemasan..
Sebagai atribut untuk melengkapi pakaian adat Melayu pada
bagian leher dan dada biasanya tergantung kalung bercorak rantai mentimun,
sekar sukun, rantai serati, mastura, gogok rantai. Pengantin wanita juga
memakai gelang kerukut yang beraneka jenis,seperti gelang tepang, gelang kana, gelang ikal dan keroncong. Pada jari terpasang aneka ragam cincin,
seperti cincin genta, cincin bermata, cincin patah biram, dan cincin pancaragam. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam
corak-corak keemasan. Bagian pinggang dihiasi dengan bengkong dan pending. lilit,
rantai panjang dan tanggang, Pada pria dikenakan
tengkulok yang terbuat dari kain songket dan tengkulok tersebut merupakan lambing
kebesaran dan kegagahan pria melayu dan pada kepala juga ditutupi oleh destar
yang terbuat dari rotan. Baju adat yang dipakai kaum pria Melayu Sumatera Utara
adalah teluk belanga yang terdiri atas baju berkrah
kocak musang, berseluar (celana panjang) bersamping. Teluk belanga terbuat dari
kain yang bermutu seperti satin dan sutra. Untuk melengkapi baju adatnya
masyarakat Melayu Sumatera Utara menggunakan alas kaki berupa selop sewarna
dengan baju. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Lengan
atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Pada bagian
pinggang dipakai bengkong dan pending. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan
sebilah keris yang bergagang emas. Keris dianggap sebagai lambang kegagahan dan
kemampuan menghadapi masadepan yang penuh tantangan.

Sumatera
Barat
a. Pakaian
Adat Penghulu Minangkabau Sumatera Barat
Seorang penghulu atau ninik
mamak memegang peranan penting dalam masyarakat sebagai pemimpin kaumnya. Oleh
karena itu, seorang penghulu memiliki pakaian kebesaran. Pada umumnya pakaian
adat penghulu terdiri atas destar, baju hitam
longgar, celana hitam longgar, sesamping, kain sandang, keris dan tongkat.
Pakaian kebesaran tersebut juga disebut pakaian adat yang terdiri atas destar
sebagai penutup kepala yang disebut dengan saluak batimba.
Destar terbuat dari kain batik yang ditata berkerut-kerut berjenjang bagian
depannya dan bagian atasnya datar. Hal tersebut melambangkan aturan hidup orang
Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga
turun.
Penghulu juga memakai baju lengan hitam longgar dengan leher lepas tidak berkatuk, belah sampai di dada tanpa kancing. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka menggunting dalam lipatan. Celana lapang warna hitam melambangkan kesiagaan. Kelengkapan lainnya adalah kain samping (sesamping) yang melipat pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Pemakaian samping ini melambangkan kehati-hatian pemakaian dalam segala tingkah laku dalam masyarakat. Ragi benang emas yang menghiasi sesamping disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengatahuan yang cukup di bidangnya.
Pinggang penghulu
dilengkapi dengan cawek (ikat pinggang) dari
sutra berjumbai (bajambua alai). Bahunya
berselempang kain sandang atau kain kaciak dari
kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu. Keris dengan posisi
miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud
menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Penghulu juga mempunyai tongkat
yang melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan
penuh wibawa. Selopnya terbuat dari beludru. Selop merupakan alas kaki dari
penghulu.

Ibu
Iriana Joko Widodo (kedua kiri) mengenakan pakaian adat Minangkabau pada
peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Ri
b.Pakaian
Adat Bundo Kanduang Sumatera Barat
Seorang wanita yang telah
diangkat menjadi bundo kanduang memegang peranan penting dalam kaumnya. Seorang
yang menjadi bundo kanduang adalah orang
yang arif bijaksana, kata-katanya didengar, pergi tempat bertanya dan pulang
tempat berita. Ia juga merupakan peti ambon puruak, artinya
tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Pada umunya kelengkapan pakaian
bundo kanduang terdiri atas tengkuluk, baju kurung, kain selempang, kain
sarung, dan berhiaskan anting-anting serta kalung.
Seorang bundo kanduang memakai tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Bahannya
dari kain balapak tenunan panadai sikat padang panjang. Bentuknya seperti
tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang
sepuhan. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik
rumah gadang. Baju kurung ada yang berwarna merah, hitam, biru, atau lembayung
ditaburi dengan benang emas. Di bahu kanan berselempang ke rusuk kiri kain
balapak yang melambangkan tanggung jawab yang harus dipikul oleh bundo kenduang
untuk melanjutkan keturunan. Untuk menutup badan bagian bawah digunakan kain
sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sarung ini sebagai simbol
meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis,
menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang.
Sebagai pelengkap pakaian bundo kanduang dikenakan perhiasan berupa
subang atau anting-anting dari emas, kalung kuda, kalung pinyaram,
kalung gadang, dan kalung kaban.
Tangannya dihiasi gelang gadang, gelang bapahek, dan gelang ular. Pemakaian gelang ini melambangkan
bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan.
Pakaian adat kaum pria terdiri atas baju model teluk belanga yang berlengan agak pendek dan melebar pada ujungnya, celana panjang, kain songket yang dikenakan dari pinggang sampai atas lutut, serta selembar kain yang menyelempang di atas bahu. Sebagai pelengkap dikenakan penutup kepala yang disebut saluak dan sebilah keris yang terselip didepan perut.
Pakaian adat kaum
wanita terdiri atas tutup kepala yang disebut bergonjong, baju
kurung, kain songket panjang, serta selembar kain songket yang motif dan
warnanya sama untuk diselempangkan pada bahu. Sebagai perhiasannya dikenakan
anting-anting, kalung bersusun, dan gelang pada kedua belah tangan.
Sumatera
Selatan
Pakaian
Adat Palembang
Pakaian adat masyarakat Palembang Sumatera
Selatan dibedakan menjadi dua, yaitu pakaian adat upacara dan pakaian adat
sehari-hari. Gambar di bawah ini adalah pakaian yang dipakai sepasang pengantin
saat upacara adat pengantin.
Bagian-bagian dari pakaian adat Sumatera Selatan tersebut, antara lain;
- mahkota gede (pak song kong),
- teater,
- kalung tapak jajo,
- gelang burung,
- gelang kano,
- gelang sempuru,
- gelang gepeng,
- kain songket,
- kain cinde,
- celana besulan (laki-laki),
- selop beludru, dan
- keris (laki-laki).
Jika
diperhatikan dengan teliti, ada kemiripan pakaian pak song kong untuk pakaian pria dan wanita.
Bahkan, dapat dikatakan sangat mirip. Pakaian ini berasal dari masa-masa
kesultanan Pelembang. Biasanya pakaian ini dipakai oleh golongan bangsawan atau
priyayi.
Bahan
pakaian pak song kong semuanya terbuat dari kain songket.
Baju bagian atasnya disebut kebaya pendek.
Selain itu, juga dapat mengenakan kebaya panjang yang disebut kebaya landoong/ kelemkari. Di bagian dalam dikenakan
penutup dada yang disebut kutang. Kutang
terbuat dari kain yang ditenun, disulam, dan diperadan. Pakaian bawahnya berupa
celana panjang yang terbuat dari kain yang ditenun. Celana ini disebut celano balabas. Kain yang dipakai didalam
celana disebut sewet bumpak. Di bagian pinggang
juga dililitkan selembar selendang, yaitu kain cinde dan
ikat pinggang yang disebut badong. Perlengkapan
pakaian adat palembang yang lainnya yaitu senjata tradisional berupa keris
yang diselipkan didepan perut sebelah kiri.
Pakaian
sehari-hari yang dipakai kaum pria terdiri atas kain (sewet), baju (kelambi), penutup
kepala, dan alas kaki (terompah). Ada beberapa jenis
penutup kepala, yaitu tanjak dan iket-iket atau kopiah (kopca). Pakaian pria dilengkapi dengan senjata, seperti
keris, tumbak lado, badeek, dan rambi ayam atau jembio.
Pria
Palembang gemar mengenakan sewet sempol dan baju bela beoloo. Ada juga yang memakai celana panjang
(seluar) atau celana model pangsi (lok cuan). Pada umumnya mereka memakai penutup kepala
baik pada saat bepergian maupun pada saat tinggal di rumah. Pada saat bepergian
mereka selalu berpenampilan rapi dengan memakai kain pelekat halus dari
jenis tajung Bugis atau gebeng
Palembang. Baju yang dipakai berupa jas tertutup. Bagi pria kaya
mereka juga memakai jam kantong dengan medalion. Pakaian
ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang). Alas
kakinya memakai terompah. Jenis pakaian ini lazim dipakai saat menghadiri
kegiatan perayaan.
Sumber : Selayang Pandang Sumatera Selatan :
Tammi Prastowo
|
Pakaian adat Sumatera Selatan
untuk kaum perempuan terdiri atas kain (sewet saroong). Baju
kurung biasa dipakai oleh kaum perempuan yang sudah tua, sedangkan yang masih
muda memakai kebaya. Mereka juga mengenakan selendang (kemben) yang dipakaikan di kepala, bahu, dada, dan dahi.
Ikat pinggangnya memakai badong atau angkin, tetapi saat ini badong sudah jarang ditemui.
Sebagai gantinya mereka memakai stagen. Alas kaki
yang mereka gunakan adalah terompah dan selop tungkak tinggi.
Pada saat menghadiri upacara adat, pakaian yang lazim dipakai berupa kain sarung, baju kurung, atau kebaya, dengan alas kaki memakai terompah atau selop. Sebagai pelengkap pakaian digunakan pula sehelai selendang besar yang dipakai untuk menutup kepala sampai bahu. Sebagai perhiasan pelengkap pakaian ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian, rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak, gelang kepalak ulo, serta gelang sekel kepalak nago.
Untuk
menghadiri upacara adat yang disebut penganten mungga,
pakaian yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Pakaian ini hanya
boleh dipakai perempuan yang sudah bersuami.




