Monday, May 11, 2020

Pakaian Adat Jawa dan Sumatera

PAKAIAN ADAT INDONESIA (SUMATERA DAN JAWA)


Kelompok 8 Character Building: Kewarganegaraan



Indonesia memiliki keanekaragaman yang tak terbatas jumlahnya, sehingga diperlukan persatuan dari semua rakyat Indonesia untuk mempertahankan keanekaragaman, karena perbedaan rentan terpisah. Salah satu contoh keanekaragaman yang dimiliki oleh Indonesia adalah pakaian adat. Pakaian adat merupakan salah satu sarana dalam menyampaikan diri kita sebagai bangsa yang beranekaragam. Tentu pakaian adat setiap daerah memiliki keunikannya tersendiri, dan masing-masing atribut melambangkan arti yang dalam dan sangat bersejarah. 

Mungkin dari kita beberapa masih kurang mendalami pakaian adat itu sendiri karena generasi muda sekarang lebih memilih pakaian modern seperti ripped jeans, sneakers, snapback, dll. Maka dari itu kami menyimpulkan contoh-contoh pakaian adat yang terdapat di Jawa dan di Sumatera.

Pakaian Adat Jawa
1.     Kebaya

Kebaya adalah jenis blus atau atasan tradisional yang dikenakan kaum perempuan. Biasanya dibuat dari kain tipis yang gabungan dengan kain batik, sarung, atau songket. Namanya sendiri berasal dari bahasa Arab, abaya yang artinya adalah pakaian.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa kebaya ini datangnya dari Tiongkok dan mengalami akulturasi budaya sesamainya di Pulau Jawa. Pada masa itu, kebaya adalah salah satu simbol perempuan bangsawan untuk membedakan mereka dengan rakyat jelata.
Dalam perkembangannya, model kebaya mengikuti pekembangan dunia fashion. Dari modelnya yang klasik, kebaya sering dikembangkan mengikuti arah mode yang sedang tren.

·       Atribut:
Traditionalnya baju kebaya tidak memiliki atribut yang mesti.












2.     Jawi Jangkep
pakaian adat jawa
Jawi Jangkep secara resmi dikenal sebagai pakaian adat daerah Jawa Tengah. Jawi Jangkep ini merupakan pakaian yang dikhususkan untuk kaum pria. Pakaian ini berasal dari adat Keraton Kasunanan Surakarta.
Jawi Jangkep ada 2 jenis, yaitu Jawi Jangkep dan Jawi Jangkep padintenan (keseharian). Jawi Jangkep mengharuskan penggunaan atasan hitam yang hanya boleh dipakai pada acara formal. Sedangkan Jawi Jangkep padintenan mengenakan atasan selain warna hitam yang boleh digunakan pada acara non-formal.
·       Atribut:
o   Penutup kepala berupa blankon atau destar.
o   Pakaian atasan dengan bagin belakang jauh lebih pendek untuk tempat keris.
o   Setagen.
o   Epek, timang, dan lerep sebagai sejenis ikat pinggang.
o   Kain bawahan.
o   Wangkingan atau keris.
o   Canilan atau selop sebagai alas kaki.







3.     Beskap
pakaian adat jawa
Beskap adalah salah satu jenis pakaian atasan pada Jawa Jangkep, namun seiring perkembangan jaman Beskap sering dikenakan terpisah. Untuk pemakaiannya, Baskep sudah dipakai oleh masyarakat Jawa sejak zaman Mataram, akhir abad ke-18.
Beskap memiliki bentuk berupa kemeja lipat dengan kerah yang bukan lipat, biasanya beskap menggunakan kain yang berwarna polos. Kancing pada beskap tertak pada sisi kanan dan kiri serta pola kancingnya menyamping. Seperti Jawi Jangkep, bagian belakang Beskap terbuka untuk tempat keris.
Untuk jenisnya, Beskap memiliki 4 jenis, yaitu:
·       Beskap gaya Solo, yaitu jenis Beskap yang terinspirasi dari pakem budaya Keraton Kasunanan.
·       Beskap gaya Yogya, yaitu jenis Beskap yang merujuk pada pakem Keraton Kasultanan.
·       Beskap Landung, yaitu jenis Beskap dengan bagian depan yang panjang.
·       Beskap gaya Kulon








4.     Surjan
Surjan adalah kemeja atasan yang digunakan oleh kaum pria dengan lenganan panjang dan kerah tegak. Surjan tebuat dari kain bermotif lurik atau bunga. Nama sujan merupakan singkatan dari gabungan kata suraksa-janma yang artinya menjadi manusia. Ada pula yang mengatakan surjan berasal dari kata sira dan jan yag artinya pelita.
Sejarah mengatakan bahwa surjan sudah ada sejak jaman Mataram Islam. Pakaian ini diciptakan pertam kali oleh Sunan Kalijaga. Pakaian ini sering juga disebut sebagai pakaian taqwa karena memiliki makna religius.
·       Atribut:
o   6 buah kacing pada kerah: Melambangkan rukun iman.
o   2 buah kancing pada dada kiri dan kanan: Melambangkan dua kalimat Syahadat.
o   3 buah kancing yang tak terlihat di bagian dada dekat perut yang melambangkan nafsu manusia yang harus dikendalikan.










5.     Kanigaran
pakaian adat jawa

Kanigaran adalah dandanan khusus pada pengantin dari keluarga kerajaan di Kesulatanan Ngayogyakarta yang disebut paes ageng kanigaran. Riasan ini sudah dipersilahkan untuk dipakai oleh masyarakat umum pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Kanigaran berisikan dengan banyak makna filosofis dan banyak diminati calon pengantin, khususnya bagi yang berdarah Jawa.
Pakaian kanigaran terbuat dari bahan beludru warna hitam yang dilengkapi dengan kain dodot atau kampuh sebagai bawahan. Riasan dan aksesoris pada Kanigaran memiliki aturan pemakaian yang ketat dan hanya perias yang terlatih yang mampu melakukannya.
·       Atribut:
o   Cunduk Mentul
Cunduk mentul adalah atribut yang letaknya di kepala yang menjulang tinggi ke atas. Biasanya terdiri dari 5 sampai 7 bulatan. Namun sebenarnya cunduk mentul dapat berjumlah 1, 3, 5, 7 atau 9. Cunduk mentul yang jumlahnya satu sebagai simbol atas keesaan Tuhan. Berjumlah tiga sebagai simbol trimurti. Jika berjumlah 5, adalah simbol rukun Islam. Jika berjumlah 7 sebagai simbol pertolongan karena tujuh dalam bahasa jawa adalah “pitu” yang dipercaya sebagai simbol “pitulungan”. Terbanyak berjumlah 9, sebagai simbol walisongo. Selain itu, cunduk mentul seharusnya dipasang menghadap belakang sebagai simbol bahwa perempuan harus cantik saat terlihat dari depan maupun belakang.
o   Gunungan
Gunungan juga diletakkan di kepala dan berbentuk seperti gunung. gunung dipercaya oleh masyarakat terdahulu sebagai tempat yang sakral dan tempat bernaungnya para dewa. Simbol ini diletakkan di kepala perempuan menandakan bahwa perempuan harus juga dihormati oleh suaminya.
o   Centhung
Centhung berbentuk seperti gerbang sebanyak dua yang terpasang di sisi kanan dan kiri. Ini adalah simbol tentang gerbang kehidupan. Artinya, perempuan harus siap untuk memasuki gerbang baru dalam kehidupannya.
o   Paes Prada
Ini adalah riasan yang dibuat di kening pengantin wanita. Biasanya berwarna hitam dan berbentuk garis lengkung. Kalau kita lihat, besar lengkungan di kening berbeda-beda. Terdapat satu lengkungan besar yang dibuat di tengah, dan diapit oleh lengkungan-lengkungan kecil. Lengkungan yang besar adalah simbol kebesaran Tuhan. Sedangkan lengkungan yang kecil disebut pengapit, sebagai simbol bahwa seorang istri harus siap menjadi penyeimbang dalam rumah tangga.
o   Citak
Citak adalah yang dilukis di tengah kening seperti riasan India. Citak berada tepat di tengah-tengah. Sebagai simbol bahwa seorang wanita harus fokus, berpandangan lurus ke depan, dan setia.
o   Alis Menjangan
Alis menjangan adalah bentuk alis yang bercabang seperti tanduk rusa. Bentuk ini memang terinspirasi dari hewan rusa. Karena, rusa adalah hewan yang cerdik, cerdas dan anggun. Artinya perempuan harus memiliki ketiga karakter ini, cerdik, cerdas dan anggun.
o   Sumping
Adalah hiasan yang diletakkan di telinga. Saat ini sumping yang digunakan oleh pengantin terbuat dari lempengan logam. Namun pada awalnya, sumping yang digunakan oleh trah kerajaan terbuat dari daun papaya, karena daun pepaya rasanya pahit, sehingga menandakan bahwa menjadi seorang istri harus siap untuk merasakan berbagai kepahitan.
o   Kalung Sungsun
Kalung ini bersusun tiga. Simbol dari tiga fase kehidupan yang harus dilalui oleh seorang wanita. Fase ini terdiri dari kelahiran, pernikahan dan kematian. Artinya setiap wanita harus siap untuk menghadapi fase-fase tersebut.
o   Kelat bahu
Kelat bahu adalah hiasan yang disematkan di bahu pengantin wanita. Kelat ini berbentuk naga. Naga adalah hewan yang dipercaya memiliki kekuatan besar. Artinya, menjadi perempuan harus kuat. Kuat menghadapi beragam masalah yang hadir di dalam pernikahan.
o   Gelang paes ageng
Gelang paes ageng adalah gelang yang dipakai pengantin wanita berbentuk bulat tanpa putus. Ini adalah simbol dari cinta abadi antara dia dan suaminya.

6.     Basahan
paes ageng
Basahan adalah riasan / dandanan yang digunakan oleh pengantin. Berasal dari warisan kebudayaan kerajaan Mataram. Basahan pada jaman sekarang masih banya menjadi dandanan pilihan untuk dikenakan pada upacara penikahan.
Berbedaan diantara dandanan basahan dan kanigaran berada pada gaya berpakaiannya. Pada Kanigaran digunakan pakaian luaran berbahan beludru di luar kemben, sedangkan pada Basahan pakaian luaran tersebut tidak dikenakan. Riasan dan aksesoris yang digunakan hampir sama dengan dandanan paes ageng kanigaran.


 Bedahan
Pakaian Adat Banten (Pangsi)
Bedahan adalah pakaian kaum menengah di Jawa Barat. Profesi dari kaum menengah itu sendiri biasanya adalah pedangang atau saudagar. Pemakaiannya biasa disertai manik-manik.
Pakaian ini memiliki bawahan kain kebat batik bergai macam corak. Alas kakinya berupa sandal tarumpah, ikat pinggang yang bernama beubeur, ikat kepala, dan rantai emas yang di gantungkan di saku bajunya.





Source:

Sumatera Utara

a.Pakaian Adat Batak Sumatera Utara

rincian baju adat batak toba
 









Kehidupan masyarakat Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Batak, tidak terlepas dari kerajinan tenun kain sebagai bahan pakaian mereka yang di sebut kain ulos. Ulos digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara adat. Apabila dipakai oleh kaum laki-laki sebagai baju mereka, bagian atasnya disebut hande-hande, sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang, atau detar. Ada beberapa jenis ulos batak yang hanya dipakai pada acara tertentu, misalnya ulos jugjaragidup, sadum, ragihotang, dan runjat. Kain ulos yang dipakai orang Batak pada upacara-upacara adat, umumnya diselempangkan kepinggangnya atau juga sebagai selendang.
Pakaian adat yang dipakai suku Batak Simalungun, antara lain bulang yang terbuat dari kain ulos dengan motif gatip dan pakaian sehari-hari yang terbuat dari ulos yang disebut jobit. Selain bulang, ada juga ulos suri-suri sebagai penutup kepala.

Sementara itu, suku Batak Toba biasanya menggaunakan baju dan celana yang dilengkapi dengan ulos maringin di kepala dan setengah badan. Kadang-kadang juga menggunakan ulos ragihotang yang diselempangkan dan dilengkapi dengan sarung.
√ 7+ Nama Pakaian Adat Sumatera Utara dan Penjelasannya
 




Text Box: Pakaian Adat Suku Batak Toba






Dalam upacara adat perkawinan kain ulos lebih tampak pada pakaian pengantin. Pengantin pria memakai baju adat berupa jas tutup warna putih, sedangkan bagian bawah memakai ulos ragi pane. Pakaian perempuan

Batak toba bagian bawahnya disebut haen yang dipakai hingga batas dada. Penutup punggung disebut hoba-hoba. Bila dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Penutup bagian kepala disebut saong. Sementara itu pakaian adat perempuan Batak karo terdiri atas baju tutup lengan panjang, sedangkan bagian bawahnya mengenakan sarung sungkit yang dililit kain ulos.

Menurut adat dalam pesta perkawinan, wanita suku Mandailing/ Angkola menggunakan atribut pakaian adat yang terdiri atas bulang yang diikatkan ke kening. Bulang tersebut terbuat dari emas, tetapi sekarang sudah banyak yang terbuat dari logam dengan sepuhan emas. Bulang terdiri atas tiga macam, yaitu bertingkat tiga (bulang harbo/ bulang kerbau), bertingkat dua (bulang hambeng/ bulang kambing), dan tidak bertingkat. Bulang
mengandung makna sebagai lambang kebesaran atau kemuliaan sekaligus sebagai simbol dari struktur masyarakat.

Bagian atas badan wanita tertutup oleh baju berwarna hitam yang dahulu terbuat dari kain beludru berbentuk baju kurung tanpa diberi hiasan atau sulaman. Baju pengantin ini disebut juga baju godang atau baju kebesaran. Bagian bawah badan tertutup kain songket dengan warna yang tidak ditentukan.

Dua lembar selendang disilangkan pada dada sampai punggung. Untuk selendang pengantin, kadang menggunakan kain polos tanpa warna tertentu. Selendang pengantin tersebut merupakan lambang dalihana tolu, tampak dari segitiga yang dibentuk dengan selendang yang disilangkan itu. Sisi kiri melambangkan mora (kerabat pemberi anak gadis), sisi kanan melambangkan kahanggi (kerabat satu marga), dan bagian bawah melambangkan anak boru (kerabat penerima gadis).

Pengantin pria menggunakan pakaian yang terdiri atas ampu atau penutup kepala dengan bentuk khas Mandailing/ Angkola yang terbuat dari kain dan bahan lain. Ampu merupakan mahkota yang biasanya digunakan raja-raja di Mandailing dan Angkola pada masa lalu. Warna hitam ampu mengandung fungsi magis, sedangkan warna emas mengandung lambang kebesaran. Bagian kanan ampu yang salah satu ujungnya menghadap ke atas dan satu lagi ke bawah mengandung arti bahwa yang paling berkuasa adalah Tuhan dan manusia pada akhirnya mati dan dikubur. Pada masa sekarang pengantin pria menggunakan jas biasa berwarna hitam yang dilengkapi dengan kemeja lengan panjang dan dasi.
Kenakan Pakaian Adat Batak Toba, Jokowi Disebut Mirip Penyanyi Sia ...

Presiden Joko Widodo menghadiri Karnaval Kemerdekaan Pesona Toba sebagai rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan R mengenakan pakaian adat Batak Toba.
 
 






b.Pakaian Adat Nias Sumatera Utara

rincian baju adat perang nias sumatera utara










Masyarakat Nias di pantai selatan Sumatera memiliki variasi pakaian tradisional yang menambah keanekaragaman pakaian adat suku-suku bangsa di Provinsi Sumatera Utara.

Dalam Upacara adat pakaian adat yang dikenakan kaum laki-laki Nias terdiri atas baru atau baju yang terbuat dari bahan kulit kayu. Baju berbentu rompi tanpa kancing ini berwarna dasar coklat atau hitam dengan ornamen berwarna merah, kuning, dan hitam. Salah satu jenis baru yang dikenal masyarakat Nias adalah baru ni'ola'a harimao, yaitu baju dengan motif kulit harimau. Selain model rompi, ada juga baju berlengan tanpa kancing yang terbuat dari kulit kayu, yaitu baru lema'a.


Laki-laki Nias kebanyakan menggunakan atribut pelengkap pakaian adat berupa kalabubu sebagai penghias leher. Kalabubu adalah kalung untuk pria yang terbuat dari kuningan dan dilapisi dengan potongan kayu kelapa (aslinya dilapisi dengan emas). Jenis kalung lainnya adalah nifatali dan nifato-fatoNifatali terbuat dari lilitan emas atau perak. Sedangkan nifato-fato terbuat dari lempengan kuningan, perak atau emas. Sementara itu, salah satu penutup kepala untuk perang disebut tetenaulu yang terbuat dari rajutan rotan yang dilengkapi daun pelem sebagai penutup bagian belakang. Ada juga penutup kepala yang disebut takula yang terbuat dari daun pelem, rotan dan pelepah kelapa.

Pakaian adat asli wanita suku Nias hanya terdiri dari lembaran kain (blacu hitam atau kulit kayu), tanpa busana atas(baju penutup dada). Pakaian ini dilengkapi dengan aja kola dan saro dalingaAja kola adalah gelang yang terbuat dari bahan gulungan kuningan dengan berat mencapai satu kilogram. Sedangkan saro delinga yaitu anting logam besar yang hanya dipakai pada telinga kanan saja.


Pakaian Adat Sumatera Utara Lengkap, Gambar dan Penjelasannya ...
 


















Untuk menghadiri upacara adat, biasanya dikenakan baju adat berbentuk jaket atau jubah berbahan katun, yang berwarna merah, berlengan kuning dihias motif sisir berwarna hijau atau kehitaman. Pakain ini dilengkapi dengan balahogo sokondra,yaitu salah satu jenis penutup baju bagian atas (seperti kalung) yang terbuat dari batu-batuan. Bagian bawah pakaian wanita Nias disebut mukha. Untuk melengkapi pakaian ini terdapat pula sebuah selendang yang diberi nama lembe, yaitu selendang katun bermotif bunga berwarna kuning dan segitiga berbaris dilapisi pinggir dari bahan berwarna kehitaman.

Sebagai kelengkapan pakaian upacara, wanita Nias memakai beberapa jenis aksesoris. Gela gela atau tali hu adalah jenis anting yang digunakan masyarakat kebanyakan. Anting tersebut terbuat dari bahan perunggu dengan hiasan batu-batuan atau kerang. Fondruru ana'a adalah jenis anting yang terbuat dari emas yang banyak digunakan oleh kaum bangsawan. Demikian juga ra ni woli woli, salah satu jenis mahkota yang terbuat dari emas berbentuk ikat kepala dengan ornamen barisan koin emas memanjang horizontal dan di tengah bagian belakang terdapat kepala mahkota berbentuk bunga dan daun-daunan.


Secara keseluruhan pakaian adat pengantin Nias tampak sederhana. Hal tersebut juga menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. sebelum mengenal pengaruh dari luar, dahulu pakaian tradisional Nias terbuat dari bahan kulit kayu. Namun, kini pakaian pengantin telah menggunakan bahan beludru. Warna hitam, merah, kuning, emas mendominasi pakaian adat pengantin Nias. Dalam pakaian adat pengantin ini tampak adanya pengaruh unsur-unsur Melayu.

Rambut wanita Nias disanggul tanpa sasak dengan memakai sunggar. Kemudian, dihiasi dengan mahkota atau rai. Baju berbentuk jubah hitam yang berhiaskan motif binatang dari beludru merah tersebut dipadukan dengan kabo, kain hitam dengan ornamen geometris segitiga berbaris di sisi pinggirnya, yang disarungkan ke kiri. Untuk kelengkapannya mempelai wanita mengenakan seledang (selendang) dan boba datu (ikat pinggang). Perhiasan yang digunakan adalah sialu fondreun (anting-anting), alga kala bubu (kalung), dan gala (gelang).

Jokowi di NiasPengantin Pria mengenakan celana hitam selutut, baju kuning berpotongan serong dari beludru yang diberi ornamen berwarna merah, kuning di bagian depan, separuh leher dan lengan. Bagian belakang baju ini lebih panjang dan bergambar matahari dan buaya. Selembar ondora atau selendang warna kuning dililitkan di pinggang.
Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Nias











c.Pakaian Adat Melayu Sumatera Utara
baju adat melayu sumatera utara
rincian baju adat melayu deli sumatera utara


Pakaian beradat Melayu biasanya dikenakan pada upacara pernikahan. Pakaian adat masyarakat Melayu Sumatera Utara pada upacara ini terdiri dari; Pengantin wanita Melayu memakai kebaya panjang atau baju kurung sebagai pakaian adat, Baju kurung ini dipadukan dengan kain songket buatan Batubara atau tenunan Malaysia dan bagian kepala dibalut dengan selendang bersulam corak-corak emas yang menutupi rambut dalam gaya sanggul khusus yaitu sanggul lipat padan atau sanggul tegang. Pada sanggul ini ditempatkan hiasan-hiasan keemasan..
Sebagai atribut untuk melengkapi pakaian adat Melayu pada bagian leher dan dada biasanya tergantung kalung bercorak rantai mentimun, sekar sukun, rantai serati, mastura, gogok rantai. Pengantin wanita juga memakai gelang kerukut yang beraneka jenis,seperti gelang tepang, gelang kana, gelang ikal dan keroncong. Pada jari terpasang aneka ragam cincin, seperti cincin genta, cincin bermata, cincin patah biram, dan cincin pancaragam. Sebagai alas kaki dipakai selop bertekad yaitu sejenis sandal bersulam corak-corak keemasan. Bagian pinggang dihiasi dengan bengkong dan pending. lilit, rantai panjang dan tanggang, Pada pria dikenakan tengkulok yang terbuat dari kain songket dan tengkulok tersebut merupakan lambing kebesaran dan kegagahan pria melayu dan pada kepala juga ditutupi oleh destar yang terbuat dari rotan. Baju adat yang dipakai kaum pria Melayu Sumatera Utara adalah teluk belanga yang terdiri atas baju berkrah kocak musang, berseluar (celana panjang) bersamping. Teluk belanga terbuat dari kain yang bermutu seperti satin dan sutra. Untuk melengkapi baju adatnya masyarakat Melayu Sumatera Utara menggunakan alas kaki berupa selop sewarna dengan baju. Pada leher pria digantungkan beberapa hiasan rantai. Lengan atasnya mengenakan kilat bahu dan sidat sebagai lambang keteguhan hati. Pada bagian pinggang dipakai bengkong dan pending. Pada pinggang depan sebelah kanan disisipkan sebilah keris yang bergagang emas. Keris dianggap sebagai lambang kegagahan dan kemampuan menghadapi masadepan yang penuh tantangan.
Jokowi Kenakan Kepala Kain Pakaian Adat Melayu untuk Anak Gadis









Text Box:  Penabalan gelar adat Datuk Seri Setia Amanah Negara kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi)








Sumatera Barat

a. Pakaian Adat Penghulu Minangkabau Sumatera Barat

Seorang penghulu atau ninik mamak memegang peranan penting dalam masyarakat sebagai pemimpin kaumnya. Oleh karena itu, seorang penghulu memiliki pakaian kebesaran. Pada umumnya pakaian adat penghulu terdiri atas destar, baju hitam longgar, celana hitam longgar, sesamping, kain sandang, keris dan tongkat. Pakaian kebesaran tersebut juga disebut pakaian adat yang terdiri atas destar sebagai penutup kepala yang disebut dengan saluak batimba. Destar terbuat dari kain batik yang ditata berkerut-kerut berjenjang bagian depannya dan bagian atasnya datar. Hal tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun.

Gambar Pakaian Adat Minangkabau (Penghulu)

Penghulu juga memakai baju lengan hitam longgar dengan leher lepas tidak berkatuk, belah sampai di dada tanpa kancing. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka menggunting dalam lipatan. Celana lapang warna hitam melambangkan kesiagaan. Kelengkapan lainnya adalah kain samping (sesamping) yang melipat pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Pemakaian samping ini melambangkan kehati-hatian pemakaian dalam segala tingkah laku dalam masyarakat. Ragi benang emas yang menghiasi sesamping disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengatahuan yang cukup di bidangnya.

Pinggang penghulu dilengkapi dengan cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu. Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Penghulu juga mempunyai tongkat yang melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Selopnya terbuat dari beludru. Selop merupakan alas kaki dari penghulu.

Pakaian Adat Minangkabau yang Dipakai Ibu Negara Iriana Joko Widodo Ternyata Hasil Karya Perajin Pandai Sikek
Ibu Iriana Joko Widodo (kedua kiri) mengenakan pakaian adat Minangkabau pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Ri


 








 


b.Pakaian Adat Bundo Kanduang Sumatera Barat

Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang memegang peranan penting dalam kaumnya. Seorang yang menjadi bundo kanduang adalah orang yang arif bijaksana, kata-katanya didengar, pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Ia juga merupakan peti ambon puruak, artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Pada umunya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri atas tengkuluk, baju kurung, kain selempang, kain sarung, dan berhiaskan anting-anting serta kalung.

gambar pakaian adat minangkabau (bundo kanduang)Seorang bundo kanduang memakai tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Bahannya dari kain balapak tenunan panadai sikat padang panjang. Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Baju kurung ada yang berwarna merah, hitam, biru, atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Di bahu kanan berselempang ke rusuk kiri kain balapak yang melambangkan tanggung jawab yang harus dipikul oleh bundo kenduang untuk melanjutkan keturunan. Untuk menutup badan bagian bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sarung ini sebagai simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis, menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang.

Sebagai pelengkap pakaian bundo kanduang dikenakan perhiasan berupa subang atau anting-anting dari emas, kalung kuda, kalung pinyaram, kalung gadang, dan kalung kaban. Tangannya dihiasi gelang gadang, gelang bapahek, dan gelang ular. Pemakaian gelang ini melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan.

Pakaian adat kaum pria terdiri atas baju model teluk belanga yang berlengan agak pendek dan melebar pada ujungnya, celana panjang, kain songket yang dikenakan dari pinggang sampai atas lutut, serta selembar kain yang menyelempang di atas bahu. Sebagai pelengkap dikenakan penutup kepala yang disebut saluak dan sebilah keris yang terselip didepan perut.

Pakaian adat kaum wanita terdiri atas tutup kepala yang disebut bergonjong, baju kurung, kain songket panjang, serta selembar kain songket yang motif dan warnanya sama untuk diselempangkan pada bahu. Sebagai perhiasannya dikenakan anting-anting, kalung bersusun, dan gelang pada kedua belah tangan.



















Sumatera Selatan
Pakaian Adat Palembang
Pakaian adat masyarakat Palembang Sumatera Selatan dibedakan menjadi dua, yaitu pakaian adat upacara dan pakaian adat sehari-hari. Gambar di bawah ini adalah pakaian yang dipakai sepasang pengantin saat upacara adat pengantin.
gambar Pakaian adat palembang Sumatera Selatan
Sumber : Selayang Pandang Sumatera Selatan : Tammi Prastowo

Bagian-bagian dari pakaian adat Sumatera Selatan tersebut, antara lain;
  1. mahkota gede (pak song kong),
  2. teater,
  3. kalung tapak jajo,
  4. gelang burung,
  5. gelang kano,
  6. gelang sempuru,
  7. gelang gepeng,
  8. kain songket,
  9. kain cinde,
  10. celana besulan (laki-laki),
  11. selop beludru, dan 
  12. keris (laki-laki).
Jika diperhatikan dengan teliti, ada kemiripan pakaian pak song kong untuk pakaian pria dan wanita. Bahkan, dapat dikatakan sangat mirip. Pakaian ini berasal dari masa-masa kesultanan Pelembang. Biasanya pakaian ini dipakai oleh golongan bangsawan atau priyayi.

Bahan pakaian pak song kong semuanya terbuat dari kain songket. Baju bagian atasnya disebut kebaya pendek. Selain itu, juga dapat mengenakan kebaya panjang yang disebut kebaya landoong/ kelemkari. Di bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. Kutang terbuat dari kain yang ditenun, disulam, dan diperadan. Pakaian bawahnya berupa celana panjang yang terbuat dari kain yang ditenun. Celana ini disebut celano balabas. Kain yang dipakai didalam celana disebut sewet bumpak. Di bagian pinggang juga dililitkan selembar selendang, yaitu kain cinde dan ikat pinggang yang disebut badong. Perlengkapan pakaian adat palembang yang lainnya yaitu senjata tradisional berupa keris yang diselipkan didepan perut sebelah kiri.

Pakaian sehari-hari yang dipakai kaum pria terdiri atas kain (sewet), baju (kelambi), penutup kepala, dan alas kaki (terompah). Ada beberapa jenis penutup kepala, yaitu tanjak dan iket-iket atau kopiah (kopca). Pakaian pria dilengkapi dengan senjata, seperti keris, tumbak lado, badeek, dan rambi ayam atau jembio.

Pria Palembang gemar mengenakan sewet sempol dan baju bela beoloo. Ada juga yang memakai celana panjang (seluar) atau celana model pangsi (lok cuan). Pada umumnya mereka memakai penutup kepala baik pada saat bepergian maupun pada saat tinggal di rumah. Pada saat bepergian mereka selalu berpenampilan rapi dengan memakai kain pelekat halus dari jenis tajung Bugis atau gebeng Palembang. Baju yang dipakai berupa jas tertutup. Bagi pria kaya mereka juga memakai jam kantong dengan medalion. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang). Alas kakinya memakai terompah. Jenis pakaian ini lazim dipakai saat menghadiri kegiatan perayaan.

gambar bagian-bagian pakaian adat palembang sumatera selatan








Sumber : Selayang Pandang Sumatera Selatan : Tammi Prastowo



Pakaian adat Sumatera Selatan untuk kaum perempuan terdiri atas kain (sewet saroong). Baju kurung biasa dipakai oleh kaum perempuan yang sudah tua, sedangkan yang masih muda memakai kebaya. Mereka juga mengenakan selendang (kemben) yang dipakaikan di kepala, bahu, dada, dan dahi. Ikat pinggangnya memakai badong atau angkin, tetapi saat ini badong sudah jarang ditemui. Sebagai gantinya mereka memakai stagen. Alas kaki yang mereka gunakan adalah terompah dan selop tungkak tinggi.

Pada saat menghadiri upacara adat, pakaian yang lazim dipakai berupa kain sarung, baju kurung, atau kebaya, dengan alas kaki memakai terompah atau selop. Sebagai pelengkap pakaian digunakan pula sehelai selendang besar yang dipakai untuk menutup kepala sampai bahu. Sebagai perhiasan pelengkap pakaian ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian, rangkaian peniti terbuat dari emas atau perak, gelang kepalak ulo, serta gelang sekel kepalak nago.

Untuk menghadiri upacara adat yang disebut penganten mungga, pakaian yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Pakaian ini hanya boleh dipakai perempuan yang sudah bersuami.